Loading...
Header Image

Fikih: Ilmu yang Menuntun, Bukan Sekadar Menuntut

Fikih: Ilmu yang Menuntun, Bukan Sekadar Menuntut

Dalam agenda tahunan First Gathering LDK Ar-Rahman yang dilaksanakan di Kota Batu pada 22–23 November 2025, terdapat satu momen yang begitu menyejukkan sekaligus menggugah hati. Usai menunaikan salat Maghrib berjamaah, para peserta mengikuti kultum malam yang disampaikan oleh Miftakhul Huda, atau yang akrab disapa Kanjeng Mas Adipati Huda. 

Dalam tausiyah singkat namun penuh makna tersebut, beliau membahas satu tema penting yang sering kita anggap sepele, namun justru menjadi pondasi utama dalam beragama, yaitu keutamaan menuntut ilmu fikih. 

---

Fikih, Penuntun Menuju Kebaikan dan Ketakwaan

Dalam penyampaiannya, beliau menukil bait dari kitab Nadzom Alala karya Syaikh Burhanuddin Ibrahim Al-Zarnuji Al-Hanafi, yang berbunyi: 

“Pelajarilah fikih, karena sesungguhnya fikih adalah sebaik-baik penuntun menuju kebaikan dan ketakwaan, serta jalan yang paling lurus.”

Bait ini menegaskan bahwa fikih bukan sekadar ilmu hukum, tetapi merupakan kompas hidup seorang muslim. Dengan fikih, seseorang tahu: 

  • Bagaimana beribadah dengan benar,
  • Bagaimana bermuamalah sesuai syariat,
  • Mana yang halal dan haram,
  • Serta bagaimana menjaga adab dalam kehidupan sehari-hari.

Fikih disebut sebagai penuntun karena ia mengarahkan amal agar tidak salah jalan, dan disebut paling lurus karena ia mengantarkan tujuan hidup menuju Allah dengan cara yang benar. 

---

Fikih sebagai Jalan Hidayah dan Benteng Kehidupan

Bait berikutnya semakin menegaskan posisi agung ilmu fikih:

“Fikih adalah ilmu yang menunjukkan jalan hidayah, dan fikih adalah benteng yang menyelamatkan dari segala kesulitan.” 

Makna dari bait ini begitu dalam:

  • Fikih sebagai penunjuk hidayah Fikih membantu manusia memahami cara hidup yang diridhai Allah. Tanpanya, seseorang bisa saja rajin beramal, tetapi keliru dalam pelaksanaannya.
  • Fikih sebagai benteng perlindungan, Ilmu ini menjaga manusia dari  perbuatan haram, kesalahan ibadah, dosa, kebingungan dalam mengambil keputusan hidup, serta berbagai fitnah akibat ketidaktahuan hukum syariat.

Dengan bekal fikih, seseorang menjadi lebih tenang, aman, dan terarah dalam menjalani kehidupan dunia hingga akhirat.

---

Mengapa Satu Ahli Fikih Lebih Ditakuti Setan?

Dalam kutipan berikutnya disebutkan:

“Sungguh, satu orang ahli fikih yang wara’ lebih berat bagi setan daripada seribu ahli ibadah.”

Yang dimaksud ahli fikih di sini bukan hanya orang yang pandai teori, tetapi yang: 

  • memahami agama dengan benar,
  • mengetahui batas halal dan haram, 
  • berhati-hati dalam sikap (wara’), 
  • serta mengamalkan ilmunya. 

Mengapa ia lebih ditakuti setan? 

  • Ahli ibadah tanpa ilmu mudah tertipu. Semangat ibadah yang tidak dibarengi pemahaman bisa membuat seseorang salah niat, salah cara, bahkan terjebak dalam kesesatan. 
  • Ahli fikih sulit diperdaya. Ia mengetahui tipu daya setan dan mampu membentengi dirinya, bahkan membimbing orang lain. 

Kisah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani: Ilmu Menyelamatkan dari Tipu Daya Setan 

Beliau juga menyampaikan kisah masyhur dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah. Suatu ketika, beliau didatangi cahaya terang yang mengaku sebagai Rabb dan menghalalkan segala yang haram. Namun dengan ilmunya, beliau segera menyadari bahwa itu adalah tipu daya setan dan mengusirnya.

Setan pun mengakui:

“Aku telah menyesatkan tujuh puluh ahli ibadah dengan cara ini. Seandainya bukan karena ilmumu, aku pasti bisa menyesatkanmu.”

Kisah ini semakin menguatkan bahwa ilmu, khususnya fikih, adalah perisai paling kuat dari kesesatan. 

---

Orang Bodoh yang Rajin Ibadah: Bahaya yang Sering Tak Disadari

Bait terakhir yang disampaikan dalam kultum ini sangat tegas:


“Kerusakan besar adalah orang alim yang rusak, namun lebih besar dari itu adalah orang bodoh yang rajin beribadah.”

Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya memang berbahaya. Namun orang bodoh yang rajin ibadah tanpa ilmu justru lebih berbahaya lagi, karena:

  • Ia merasa paling benar,
  • bisa mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram,
  • menciptakan bid‘ah dan kesesatan baru,
  • serta menyesatkan orang lain atas nama ibadah. 

Inilah mengapa ilmu harus didahulukan sebelum beramal, agar ibadah tidak hanya semangat, tetapi juga benar dan diterima.

---

Penutup: Belajar Fikih adalah Investasi Akhirat 

Melalui kultum yang disampaikan pada malam First Gathering ini, kita diajak untuk merenung: Sudahkah ibadah kita dilandasi dengan ilmu? Atau masih sekadar mengandalkan semangat tanpa pemahaman?

Ilmu fikih bukan sekadar teori, tetapi penuntun hidup, benteng diri, dan cahaya hidayah. Semoga kita termasuk golongan yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu.

Karena sejatinya, ibadah yang paling indah adalah ibadah yang berlandaskan ilmu. Dan ilmu fikih adalah salah satu kunci utamanya.